AdSense Header Leaderboard
Tekno

Meta Connect 2026: Kacamata AI Tanpa Kamera Sampai VR 100 Gram, Meta Makin Serius Bikin Kita Lepas dari HP

R
Reka Anjani Penulis
7 min read 219 views
Share:

Detail Artikel

Meta Connect 2026: Kacamata AI Tanpa Kamera Sampai VR 100 Gram, Meta Makin Serius Bikin Kita Lepas dari HP
AdSense Article Top (728x90)

Kalau beberapa tahun terakhir smart glasses masih terasa seperti gadget eksperimen yang dipakai supaya kelihatan seperti manusia dari masa depan, Meta Connect 2026 mulai menunjukkan arah yang lebih masuk akal.

Pada acara yang digelar 23 September 2026, Meta memperkenalkan sederet perangkat wearable baru. Ada Ray-Ban Meta Audio tanpa kamera, Ray-Ban Meta generasi ketiga, ekspansi Meta Ray-Ban Display, sampai perangkat yang mungkin paling menarik: Meta VR Glasses dengan bobot sekitar 100 gram.

Semua perangkat itu punya satu benang merah yang cukup jelas: Meta ingin AI nggak cuma hidup di dalam aplikasi.

Mereka ingin AI ikut nongkrong di wajah kita.

[]

Ray-Ban Meta Audio: Smart Glasses Tanpa Kamera

Salah satu pengumuman paling menarik justru datang dari perangkat yang fiturnya dikurangi.

Namanya Ray-Ban Meta Audio.

Berbeda dengan Ray-Ban Meta yang selama ini punya kamera, versi Audio sama sekali nggak memiliki kamera. Perangkat ini lebih mirip gabungan antara kacamata biasa, open-ear earphone, dan AI assistant.

Pengguna tetap bisa:

  • mendengarkan musik dan podcast,

  • menerima telepon,

  • berbicara dengan AI,

  • menggunakan fitur penerjemahan,

  • dan mengakses berbagai fungsi berbasis suara.

Bedanya, orang di depan kita nggak perlu bertanya-tanya apakah mereka sedang direkam.

Ini cukup relevan karena smart glasses dengan kamera belakangan mulai menghadapi masalah privasi. Beberapa negara dan institusi bahkan mulai mempertimbangkan pembatasan penggunaan kacamata berkamera di area tertentu.

Jadi menghilangkan kamera ternyata bisa menjadi fitur.

Teknologi memang kadang harus muter satu lingkaran penuh untuk menemukan kembali konsep bernama "kacamata".

Bobot Cuma 43 Gram

Ray-Ban Meta Audio memiliki bobot sekitar 43 gram, menjadikannya salah satu perangkat AI glasses paling ringan di lini Meta.

Baterainya diklaim bisa bertahan sampai 12 jam, sementara charging case memberikan tambahan penggunaan hingga sekitar 48 jam.

Ada dua desain yang tersedia saat peluncuran:

  • Clubmaster, dengan desain retro khas Ray-Ban

  • Burbank, dengan frame berbentuk kotak yang lebih klasik

Totalnya tersedia dalam 23 kombinasi warna dan lensa, serta tetap mendukung lensa resep.

Harganya mulai US$349, sekitar Rp5,8 jutaan jika dikonversi kasar tanpa memperhitungkan pajak dan biaya masuk.

Pre-order sudah dibuka sejak 23 September dan pengiriman dijadwalkan mulai 13 Oktober 2026.

Ray-Ban Meta Gen 3 Ikut Naik Kelas

Buat yang tetap menginginkan kamera, Meta juga memperkenalkan Ray-Ban Meta Gen 3.

Desainnya dibuat lebih tipis dan nyaman dibanding generasi sebelumnya.

Ada tiga pilihan frame:

  • Aviator

  • Zena

  • Wayfarer

Total terdapat 27 kombinasi warna dan lensa.

Baterainya sekarang bisa bertahan hingga sekitar 9 jam, satu jam lebih panjang dibanding generasi sebelumnya.

Meta juga memasang sistem enam mikrofon yang diklaim mampu mengurangi lebih dari 90 persen background noise.

Kameranya menggunakan sensor 12 MP dan sudah bisa merekam video sampai 3K Ultra HD.

Ada juga tombol baru yang bisa dikustomisasi untuk membuka Meta AI dengan cepat.

Harga Ray-Ban Meta Gen 3 dimulai dari US$449.

Muse Jadi Otak di Balik Kacamata Meta

Hardware memang menarik, tapi strategi Meta sebenarnya terlihat lebih jelas dari software-nya.

Meta membawa Muse, personal AI agent mereka, langsung ke dalam lini AI glasses.

Konsepnya bukan sekadar:

"Hey AI, cuaca hari ini apa?"

Muse dirancang supaya bisa membantu mengatur aktivitas dan mengerjakan tugas yang lebih panjang.

Misalnya membantu mengelola kalender, membuat rencana berdasarkan target tertentu, memberikan informasi ketika sedang berada di luar rumah, sampai menerjemahkan percakapan secara langsung.

Target akhirnya kelihatan cukup jelas.

Meta ingin interaksi dengan AI terjadi tanpa harus terus-terusan mengeluarkan smartphone.

Dan kalau konsep ini berhasil, smart glasses bisa berubah dari aksesori HP menjadi perangkat komputasi utama untuk beberapa aktivitas.

Meta VR Glasses: Ini yang Lebih Gila

Pengumuman terbesar di Meta Connect kali ini kemungkinan justru Meta VR Glasses.

Kalau Meta Quest masih terlihat seperti headset VR, perangkat baru ini sudah mulai menyerupai kacamata tebal.

Bobotnya sekitar 100 gram.

Sebagai perbandingan, Meta mengatakan perangkat tersebut sekitar lima kali lebih ringan dibanding Quest 3.

Kuncinya ada pada desain hardware.

Meta memindahkan sebagian komponen dan baterai ke sebuah puck terpisah yang bisa dimasukkan ke kantong.

Jadi kepala pengguna nggak perlu menanggung seluruh komputer sekaligus.

Puck tersebut memiliki bobot sekitar 300 gram dan memberikan sekitar tiga jam penggunaan untuk pemutaran media beresolusi tinggi, serta mendukung pengisian daya 45W.

Sedikit kabel menuju kantong memang nggak se-futuristik film sci-fi, tapi leher manusia mungkin punya pendapat berbeda.

Layar 5K Micro-OLED

Di balik frame-nya terdapat panel micro-OLED 5K dengan kepadatan sekitar 37 pixel per degree.

Meta juga memberikan dukungan:

  • Dolby Vision

  • Dolby Atmos

  • full-color passthrough

  • eye tracking

  • hand tracking

Perangkat ini menggunakan chip baru Snapdragon Reality Elite dari Qualcomm.

Pengguna bisa mengontrol interface menggunakan mata, gesture tangan, maupun suara tanpa controller.

Controller Quest dan Xbox tetap bisa digunakan kalau dibutuhkan, terutama untuk gaming.

Bioskop IMAX Bisa Dipasang di Wajah

Meta cukup agresif memasarkan VR Glasses sebagai perangkat entertainment.

Ini diklaim menjadi perangkat VR pertama yang mendapatkan sertifikasi IMAX Enhanced.

Pengguna nantinya bisa menonton film 3D melalui layar virtual berukuran besar.

Meta juga bekerja sama dengan Disney+ untuk menghadirkan beberapa film dalam format 3D mulai November di negara tertentu.

Beberapa film yang disebut Meta antara lain The Avengers dan Black Panther. Lingkungan virtualnya bahkan bisa disesuaikan dengan film, seperti Avengers Tower.

Bukan cuma film.

Meta juga bekerja sama dengan ESPN dan sejumlah penyedia konten olahraga untuk menghadirkan pertandingan secara immersive.

Targetnya adalah lebih dari 100 pertandingan olahraga live immersive setiap tahun ketika perangkat tersedia.

Bayangannya sederhana.

Nonton pertandingan dari rumah, tapi sudut pandangnya seperti duduk dekat lapangan.

Kalau implementasinya bagus, ini mungkin salah satu alasan paling masuk akal buat orang awam mencoba VR.

Bisa Jadi Monitor Virtual Buat Kerja

Meta juga nggak mau VR Glasses cuma menjadi bioskop mahal.

Perangkat ini bisa membuat beberapa layar virtual untuk bekerja.

Pengguna dapat menghubungkannya ke Mac atau PC dan menampilkan monitor secara virtual di depan mata.

Yang lebih menarik, Meta mengatakan permukaan datar seperti meja bisa digunakan sebagai keyboard dan touchpad virtual.

Jadi secara teori:

Laptop nggak dibawa.

Monitor nggak dibawa.

Keyboard nggak dibawa.

Cukup pakai kacamata dan mulai mengetik di meja.

Apakah pengalaman mengetiknya benar-benar nyaman untuk kerja delapan jam tentu masih perlu dibuktikan. Presentasi teknologi dan kenyataan hidup manusia biasanya baru berkenalan setelah produk dikirim ke reviewer.

Harganya US$1.299

Teknologi seperti ini jelas belum murah.

Meta VR Glasses dibanderol sekitar US$1.299,99, atau sekitar Rp21 jutaan dengan konversi kasar.

Peluncurannya direncanakan pada musim semi 2027 di Amerika Utara, Eropa, dan Asia.

Jadi ini masih bukan perangkat yang kemungkinan dibeli impulsif setelah melihat promo tengah malam.

Tapi harga tersebut tetap menarik karena Meta mencoba membawa kemampuan yang sebelumnya identik dengan headset VR besar ke perangkat dengan berat hanya sekitar 100 gram.

Indonesia Juga Kebagian Ekspansi

Ada satu detail dari pengumuman Meta yang cukup menarik buat pasar Indonesia.

Meta menyebut lini Oakley Meta, Ray-Ban Meta, dan Ray-Ban Meta Optics akan diperluas ke beberapa negara baru pada akhir tahun, termasuk:

  • Indonesia

  • Malaysia

  • Thailand

  • Filipina

  • Hong Kong

  • Selandia Baru

  • Turki

  • Polandia

  • Portugal

  • Israel

  • Afrika Selatan

Namun Meta belum memberikan tanggal peluncuran dan harga spesifik untuk Indonesia dalam pengumuman tersebut.

Smart Glasses Mulai Punya Alasan Buat Dipakai?

Hal paling menarik dari Meta Connect 2026 bukan sekadar jumlah kacamata baru yang diumumkan.

Yang berubah adalah fungsi perangkatnya.

Generasi awal smart glasses sering terasa seperti kamera kecil yang kebetulan ditempelkan ke kacamata.

Sekarang mulai muncul beberapa kategori berbeda.

Ada Ray-Ban Meta Audio untuk orang yang cuma membutuhkan audio dan AI tanpa kamera.

Ada Ray-Ban Meta untuk foto, video, dan AI.

Ada Meta Ray-Ban Display yang membawa informasi langsung ke lensa.

Kemudian ada Meta VR Glasses yang mencoba menggantikan sebagian fungsi monitor, televisi, dan headset VR.

Meta bahkan mengatakan pada akhir 2026 mereka akan menawarkan lebih dari 100 pilihan AI glasses melalui lini Ray-Ban, Oakley, dan Meta Glasses.

Itu menunjukkan kalau perusahaan ini nggak lagi memperlakukan smart glasses sebagai eksperimen sampingan.

Mereka sedang mencoba membuatnya menjadi kategori komputer baru.

Smartphone jelas belum akan hilang besok pagi. Kamera, baterai, layar, koneksi seluler, dan ekosistem aplikasi masih membuat HP jauh lebih praktis.

Tapi kalau perangkat seberat 43 sampai 100 gram sudah bisa memutar musik, berbicara dengan AI, menerjemahkan percakapan, mengambil foto, menampilkan layar virtual, sampai menjalankan workspace, pertanyaannya mulai berubah.

Bukan lagi "buat apa pakai smart glasses?"

Melainkan "berapa banyak aktivitas HP yang akhirnya bisa pindah ke kacamata?"

Dan sepertinya itu pertanyaan yang ingin dijawab Meta beberapa tahun ke depan.

R

Reka Anjani

Author

Penulis di Gakuza. Membahas game, anime, manga, teknologi, dan panduan terkini.