AdSense Header Leaderboard
Tekno

Googlebook Resmi Dibuka Pre-Order, Laptop “Android Rasa PC” Mulai Rp15 Jutaan

R
Reka Anjani Penulis
7 min read 35 views
Share:

Detail Artikel

Googlebook Resmi Dibuka Pre-Order, Laptop “Android Rasa PC” Mulai Rp15 Jutaan
AdSense Article Top (728x90)

Google akhirnya punya jawaban baru buat pengguna Android yang selama ini pengin pengalaman laptop dan HP lebih nyambung. Namanya Googlebook, kategori laptop premium baru yang dibangun dari teknologi Android, fondasi desktop ChromeOS, dan tentu saja dijejali Gemini.

Pre-order Googlebook resmi dibuka pada 21 September 2026, dengan lima produsen langsung ikut di gelombang pertama: Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo. Harganya mulai US$899, atau sekitar Rp15 jutaan kalau dikonversi kasar, sebelum pajak dan biaya lain.

[GAMBAR_GOOGLEBOOK_LAPTOP_2026]

Menariknya, Googlebook bukan sekadar Chromebook yang diganti nama dan ditempeli stiker AI. Google mencoba bikin kategori laptop yang lebih serius buat pengguna Android, lengkap dengan integrasi HP, aplikasi Android native, Chrome versi desktop, lingkungan Linux buat developer, sampai Gemini yang ditanam cukup dalam ke sistem operasinya.

Jadi, Googlebook Itu Apa?

Cara paling gampang menjelaskannya: bayangkan Chromebook premium, Android, dan Gemini dilebur jadi satu laptop.

Google menyebut Googlebook dibangun menggunakan Android technology stack yang dipadukan dengan fondasi desktop dari ChromeOS. Jadi pengguna tetap mendapatkan pengalaman browser desktop lewat Chrome, tetapi juga bisa menjalankan aplikasi Android dan terhubung lebih erat dengan HP Android.

Ini penting karena Google selama bertahun-tahun punya posisi yang agak aneh di dunia komputer.

Android mendominasi smartphone, Chrome mendominasi browser, Google punya segudang layanan produktivitas, tapi pengalaman antara HP Android dan laptop masih belum semulus kombinasi iPhone dan Mac.

Googlebook kelihatannya dibuat untuk menutup lubang itu.

HP Android dan Laptop Akhirnya Lebih Nyambung

Salah satu fokus utama Googlebook adalah continuity antara HP Android dan laptop.

Saat pertama login, beberapa data seperti password tersimpan, jaringan Wi-Fi, pengaturan, dan pesan bisa ikut tersinkronisasi. Google mengatakan proses tersebut dilindungi end-to-end encryption.

Ada juga beberapa fitur yang cukup menarik.

Continue On

Lagi mengerjakan sesuatu di HP?

Aktivitas tersebut bisa dilanjutkan lewat Googlebook dari taskbar. Konsepnya mirip continuity yang sudah lama menjadi salah satu kekuatan ekosistem Apple.

Files

Aplikasi Files di Googlebook bisa mengakses dan mencari file maupun foto dari HP.

Jadi ritual absurd seperti mengirim file ke diri sendiri lewat WhatsApp cuma supaya bisa dibuka di laptop seharusnya makin jarang dilakukan.

Cast My Apps

Aplikasi dari HP Android juga bisa ditampilkan dan dikontrol melalui window di Googlebook.

Misalnya lagi kerja lalu perlu mengambil OTP dari aplikasi tertentu, pengguna nggak harus terus-terusan berpindah perangkat.

Gemini Nggak Cuma Jadi Chatbot di Samping Layar

Bagian yang lebih menarik justru datang dari integrasi Gemini.

Google nggak sekadar menaruh tombol Gemini lalu menganggap pekerjaannya selesai. Ada beberapa fitur AI yang dibuat langsung menjadi bagian dari cara pengguna berinteraksi dengan desktop.

Salah satunya bernama Magic Pointer.

Pengguna cukup menggoyangkan cursor untuk memanggil Gemini berdasarkan konten yang sedang tampil di layar.

Misalnya ada jadwal latihan marathon di sebuah website. Magic Pointer bisa membaca jadwal tersebut lalu diminta memasukkannya ke Google Calendar.

Atau kalau menerima email mencurigakan, pengguna bisa meminta Gemini menganalisis teks dan gambar di email tersebut tanpa perlu copy-paste semuanya ke chatbot.

Google mengatakan Magic Pointer hanya aktif ketika dipanggil pengguna dan bisa dimatikan.

Ada Rambler Buat yang Lebih Suka Ngomong daripada Ngetik

Ada juga fitur bernama Rambler.

Ini bukan voice typing biasa.

Pengguna bisa ngomong secara bebas, termasuk dengan kalimat berantakan, salah ucap, atau berpindah bahasa. Rambler kemudian mencoba mengubahnya menjadi tulisan yang lebih terstruktur.

Contohnya, hasil meeting bisa langsung diubah menjadi catatan dengan heading, bullet point, dan action item.

Buat orang yang isi kepalanya lebih cepat daripada kemampuan mengetiknya, fitur semacam ini justru berpotensi lebih berguna dibanding sekadar chatbot yang menunggu prompt.

Bisa Bikin Widget Cuma dengan Ngomong

Fitur lain yang cukup menarik adalah Create My Widget.

Sesuai namanya, pengguna bisa meminta Gemini membuat widget desktop menggunakan bahasa biasa tanpa harus menulis kode.

Misalnya:

Buat widget buat mantau skor pertandingan tim favorit gue.

Gemini kemudian mencoba membuat widget tersebut.

Untuk pengguna yang mau lebih jauh, Googlebook juga dilengkapi Google Antigravity untuk membuat aplikasi sendiri.

Developer bahkan tetap mendapatkan environment Linux dan bisa menjalankan development tools seperti Claude Code maupun Antigravity CLI.

Jadi Googlebook bukan perangkat yang sepenuhnya dikunci seperti tablet ber-keyboard. Google masih menyisakan jalur untuk developer yang butuh terminal dan tooling lebih serius.

Speknya Juga Nggak Dibikin Ala Chromebook Murah

Google jelas nggak memosisikan Googlebook sebagai laptop murah untuk sekolah.

Semua model awal memiliki RAM minimal 16 GB, sementara beberapa konfigurasi tersedia sampai 32 GB.

Pilihan prosesornya antara lain Intel Core Ultra Series 3 dan Qualcomm Snapdragon X Elite, dengan NPU yang menawarkan kemampuan AI lebih dari 45 TOPS.

Layarnya juga sudah touchscreen dengan pilihan panel hingga OLED 2.8K.

Google mengklaim daya tahan baterainya bisa mencapai sekitar 14 jam untuk video playback dan hingga 16 jam untuk browsing pada konfigurasi tertentu. Angka nyata tentu masih perlu menunggu pengujian independen, karena klaim baterai laptop dari produsen memang punya hubungan yang cukup longgar dengan kehidupan manusia sebenarnya.

Google juga memberikan standar hardware premium seperti keyboard backlit dan haptic glass trackpad.

Ada Glowbar, Karena Laptop Rupanya Butuh Lampu Lagi

Google juga menghidupkan kembali elemen desain bernama Glowbar.

Ini berupa lampu di bagian luar laptop yang bisa menyala ketika perangkat booting, menunjukkan status baterai, atau memberikan animasi saat pengguna berinteraksi dengan Gemini.

Google bahkan membuka akses Glowbar untuk developer supaya aplikasi bisa membuat animasinya sendiri.

Apakah ini penting? Tidak juga.

Apakah kemungkinan bakal jadi identitas visual Googlebook? Sangat mungkin.

Lima Brand Langsung Ikutan

Gelombang pertama Googlebook datang dari:

  • Acer

  • ASUS

  • Dell

  • HP

  • Lenovo

Masing-masing mengambil pendekatan berbeda.

Acer punya model convertible yang bisa berubah menjadi tablet. ASUS fokus pada laptop ringan dengan bobot sekitar 2,2 pound atau kurang lebih 1 kg. Lenovo membawa layar 15 inci yang lebih fokus ke produktivitas.

Harga perangkat di pasar AS berada di kisaran US$899 sampai US$1.299, tergantung model dan konfigurasi.

Jadi jangan berharap Googlebook menjadi penerus Chromebook Rp4 jutaan.

Google jelas sedang mengejar pasar laptop premium.

Google AI Pro Gratis Setahun

Setiap pembelian Googlebook juga mendapatkan 12 bulan Google AI Pro, termasuk akses ke Gemini Advanced dan penyimpanan cloud 5 TB.

Google turut memberikan beberapa bonus layanan selama beberapa bulan seperti YouTube Premium dan Adobe Photoshop.

Googlebook OS sendiri dijanjikan mendapat feature drop dan update hingga 10 tahun.

Ini cukup penting karena umur dukungan software sekarang mulai menjadi faktor besar saat membeli laptop, terutama perangkat yang sangat bergantung pada layanan AI dan integrasi cloud.

Kapan Googlebook Mulai Dijual?

Pre-order sudah dibuka sejak 21 September 2026.

Penjualan retail dimulai pada:

  • 4 Oktober 2026: Amerika Serikat

  • 5 Oktober 2026: Kanada, Inggris, Irlandia, Prancis, Jerman, dan Australia

Sayangnya, Indonesia belum masuk daftar negara peluncuran awal yang diumumkan Google.

Belum ada informasi resmi kapan Googlebook bakal masuk Indonesia.

Yang Menarik Justru Bukan Laptopnya

Googlebook memang terlihat seperti produk hardware baru, tapi pertarungan sebenarnya ada di ekosistem.

Apple sudah lama punya kombinasi iPhone dan Mac. Microsoft sekarang mendorong Copilot+ PC dan integrasi Windows dengan smartphone.

Google punya Android yang digunakan miliaran perangkat, tapi selama ini belum punya pengalaman desktop premium yang benar-benar terasa sebagai pasangan alami Android.

Googlebook mencoba mengubah itu.

Alih-alih menjual laptop berdasarkan CPU, RAM, atau layar saja, Google menawarkan ide yang lebih besar: HP Android dan laptop seharusnya bekerja sebagai satu ekosistem.

Dan Gemini menjadi lem yang menghubungkan semuanya.

Apakah pendekatan ini bakal berhasil tentu belum bisa disimpulkan hanya dari presentasi Google. Harga mulai US$899 juga membuat Googlebook harus berhadapan langsung dengan laptop Windows premium dan MacBook, bukan Chromebook murah.

Tapi setidaknya Googlebook terasa seperti eksperimen PC Google yang jauh lebih serius dibanding sekadar menempelkan label AI ke laptop lalu berharap manusia bertepuk tangan.

Kalau integrasi Android-nya benar-benar mulus, Googlebook justru bisa menjadi salah satu perubahan paling menarik di pasar laptop dalam beberapa tahun terakhir.

Daftar Pustaka

R

Reka Anjani

Author

Penulis di Gakuza. Membahas game, anime, manga, teknologi, dan panduan terkini.